-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
Setiap Muslim tentu berharap seluruh ibadah yang dikerjakan, mulai dari salat, dzikir, tilawah Al-Qur’an, puasa hingga berbagai amal kebaikan lainnya, diterima oleh Allah SWT. Namun, pertanyaan yang kerap muncul adalah bagaimana mengetahui bahwa amal tersebut benar-benar diterima?
Para ulama menjelaskan bahwa diterimanya amal tidak hanya menjadi urusan akhirat, tetapi juga dapat terlihat melalui tanda-tanda yang dirasakan seorang hamba sejak di dunia. Hal ini sebagaimana diterangkan oleh Ibnu Athaillah As-Sakandari dalam kitab Al-Hikam.
Dalam buku Terjemah Syarah Al-Hikam al-Athaiyyah Jilid 2 karya Syeikh Sa’id Ramadhan al-Buthi, dijelaskan bahwa menurut Syeikh Athaillah, amal yang diterima akan melahirkan “buah” yang bisa dirasakan pelakunya. Salah satu tandanya adalah munculnya kenikmatan dalam beribadah. Hati terasa tenteram, jiwa menjadi lapang, dan ada kebahagiaan saat bermunajat kepada Allah SWT.
Penjelasan ini juga dikaitkan dengan firman Allah dalam Surah Ar-Rahman ayat 46 yang menyebutkan, “Bagi siapa yang takut pada keagungan Tuhannya disediakan dua surga.” Para ulama memaknai dua surga tersebut sebagai kenikmatan di dunia dan kenikmatan di akhirat. Surga di dunia berupa ketenteraman hati dan kelezatan dalam ibadah, sementara surga di akhirat adalah balasan abadi yang dijanjikan Allah SWT.
Tanda diterimanya salat, misalnya, dapat dilihat dari perubahan perilaku. Seseorang menjadi lebih mampu menjaga diri dari perbuatan maksiat dan terdorong memperbaiki akhlaknya. Ia juga merasakan kerinduan untuk kembali menunaikan salat, bukan menjadikannya sebagai beban, melainkan kebutuhan jiwa.
Pada amalan dzikir, tanda penerimaan terlihat ketika dzikir menumbuhkan kesadaran bahwa Allah selalu mengawasi setiap langkah kehidupan. Kesadaran ini membuat seseorang lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, serta lebih tenang dalam menghadapi persoalan dunia.
Dalam ibadah haji, tanda diterimanya amal tampak ketika hati mampu melepaskan diri dari urusan dunia dan sepenuhnya fokus kepada Allah selama menjalankan manasik. Sementara dalam tilawah Al-Qur’an, tanda tersebut terlihat ketika ayat-ayat yang dibaca terasa menyentuh hati dan mendorong untuk diamalkan.
Secara umum, amal yang diterima akan membawa perubahan nyata dalam diri seseorang. Ia menjadi lebih sabar, rendah hati, dan gemar berbuat kebaikan tanpa mengharapkan pujian. Ibadah yang diterima tidak berhenti pada ritual semata, tetapi menghadirkan dampak positif dalam kehidupan sehari-hari.
Dengan memahami tanda-tanda ini, umat Islam diharapkan dapat terus mengevaluasi diri dan meningkatkan kualitas keikhlasan dalam beribadah, agar setiap amal yang dilakukan benar-benar bernilai di sisi Allah SWT. (red/detikhikmah)





