-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
BANDA,EKSPRESSIMALUKU,- Kerusakan lingkungan berupa abrasi dilaporkan terjadi di Pulau Pisang atau yang lebih dikenal Pulau Sjahrir salah satu destinasi wisata unggulan di Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah.
Seorang pengunjung mengungkapkan keprihatinannya setelah melihat langsung kondisi pesisir pulau yang mengalami kerusakan cukup serius.
Abrasi disebut-sebut dipicu oleh aktivitas manusia, terutama pengambilan pasir secara berlebihan serta perusakan terumbu karang untuk membuka akses masuk ke pantai.
“Tempat wisata Pulau Pisang sudah rusak parah akibat pengambilan pasir yang berlebihan. Bahkan terumbu karang juga dirusak untuk jalur masuk ke pantai,” ungkapnya salah satu pengunjung kepada media ini, Rabu, 25/03/2026.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kejadian abrasi sebenarnya telah berlangsung sejak Februari lalu. Namun, kondisi terparah baru terjadi dalam rmoat hari terakhir.
Warga setempat baru mengetahui dampak kerusakan tersebut setelah menerima laporan dan dokumentasi foto dari salah satu keluarga yang tinggal di pesisir pantai pulau sjahrir.
Ironisnya, warga menilai belum ada langkah tegas dari aparat setempat. Bahkan Ketua RT di wilayah tersebut belum mengambil tindakan konkret meskipun laporan sudah disampaikan oleh warga yang terdampak langsung.
Warga pesisir pantai mendesak agar pemerintah desa setempat segera mengeluarkan imbauan resmi sekaligus tindakan tegas untuk menghentikan aktivitas pengambilan pasir di kawasan tersebut.
“Sudah sering dilaporkan ke kepala desa dan Babinsa, bahkan sudah ada papan larangan. Tapi masyarakat tetap saja mengambil pasir di situ tanpa ada efek jera,” ujar salah satu warga yang tak ingin namanya dipublikasikan.
Pulau Sjahrir sendiri memiliki nilai sejarah dan daya tarik wisata tinggi. Nama pulau tersebut diambil dari tokoh proklamator Sutan Sjahrir yang pernah diasingkan ke wilayah Banda.
Selain dikenal sebagai pulau bersejarah, pulau ini juga menjadi salah satu tujuan wisata favorit bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, lantaran memiliki spot diving yang iconik.
Kini, warga yang tinggal di pesisir pantai Pulau Pisang menjadi pihak yang paling merasakan dampak abrasi. Mereka mengaku telah berulang kali melaporkan persoalan tersebut ke berbagai pihak, namun hingga kini belum ada tindakan nyata maupun sanksi tegas terhadap pelaku pengambilan material pasir.
Mereka berharap pemerintah daerah dan aparat terkait segera turun tangan sebelum kerusakan semakin meluas dan mengancam keberlanjutan hidup mereka serta lingkungan maupun sektor pariwisata di kawasan pantai Pulau Sjahrir. (M-09)





