-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
TEL.ELPAPUTIH,EKSPRESSIMALUK,- Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa menegaskan bahwa pembangunan proyek hilirisasi fase II, berupa dua pabrik pengolahan kelapa dan pala milik PTPN I Regional 8 di kawasan Awaiya, Kecamatan Teluk Elpaputih, Kabupaten Maluku Tengah, menjadi langkah strategis dalam menjawab persoalan pengangguran dan kemiskinan yang selama ini masih membayangi masyarakat Maluku.
Penegasan tersebut disampaikan Lewerissa saat menghadiri kegiatan groundbreaking pembangunan pabrik kelapa terintegrasi dan pabrik pala di kawasan perkebunan Awaiya, Rabu, 29/04/2026.
Kegiatan itu turut dihadiri Bupati Maluku Tengah Zulkarnain Awat Amir, jajaran Forkopimda, pimpinan OPD Provinsi dan Kabupaten, manajemen PTPN I Regional 8, tokoh masyarakat, tokoh adat, serta warga sekitar lokasi proyek.
Dalam sambutannya, Gubernur menekankan bahwa investasi yang masuk ke Maluku tidak boleh hanya berorientasi pada keuntungan perusahaan semata, tetapi harus mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat, terutama dalam membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat.
“Tantangan terbesar yang kita hadapi hari ini adalah lapangan pekerjaan dan kemiskinan. Karena itu, pembangunan seperti ini harus mampu menyerap tenaga kerja masyarakat lokal dan membuka harapan baru bagi keluarga yang selama ini belum memiliki penghasilan tetap,” ujar Lewerissa.
Ia mengatakan, Maluku selama ini dikenal sebagai daerah yang kaya akan sumber daya alam, mulai dari hasil laut, perkebunan, hingga rempah-rempah yang terkenal sampai ke mancanegara. Namun ironisnya, kekayaan tersebut belum sepenuhnya memberi dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
“Kita terlalu lama hanya bangga mengatakan Maluku kaya, tetapi yang terlihat di depan mata justru kemiskinan dan keterbelakangan. Laut kita kaya, hutan kita kaya, tanah kita subur, tetapi kekayaan itu belum sepenuhnya dinikmati masyarakat. Karena itu sumber daya alam ini harus diolah dan memberi manfaat nyata bagi rakyat Maluku,” tegasnya.
Menurut Lewerissa, pembangunan dua pabrik pengolahan tersebut menjadi momentum penting dalam mendorong hilirisasi industri perkebunan di Maluku, sekaligus mengakhiri ketergantungan daerah terhadap penjualan bahan mentah.
Ia menjelaskan, selama ini sebagian besar hasil perkebunan masyarakat hanya dijual dalam bentuk mentah dengan nilai ekonomi yang rendah. Padahal, jika diolah menjadi produk turunan industri, maka nilai jual komoditas tersebut akan meningkat berkali-kali lipat.
“Kalau selama ini hasil perkebunan hanya dijual mentah, maka lewat hilirisasi ini nilai ekonominya akan meningkat. Ini akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani, membuka peluang usaha baru, dan memperkuat pertumbuhan ekonomi daerah,” tambahnya.
Lewerissa juga mengapresiasi langkah pemerintah pusat bersama PTPN I Regional 8 yang mulai serius mengembangkan sektor hilirisasi di Maluku melalui pembangunan industri berbasis komoditas unggulan daerah seperti kelapa dan pala.
Menurutnya, proyek tersebut bukan hanya sekedar pembangunan pabrik, melainkan bagian dari upaya besar membangun kemandirian ekonomi daerah berbasis potensi lokal.
“Kita ingin kekayaan Maluku tidak lagi hanya dibawa keluar sebagai bahan mentah, tetapi diolah di daerah sendiri sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh masyarakat Maluku,” ujarnya.
Selain itu, Gubernur juga mengingatkan pentingnya tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR yang benar-benar berdampak bagi masyarakat sekitar lokasi investasi.
Ia berharap kehadiran industri besar di Maluku tidak hanya menghadirkan keuntungan korporasi, tetapi juga membawa perubahan sosial dan ekonomi yang nyata bagi warga.
“CSR jangan hanya menjadi formalitas perusahaan. Program-program yang dijalankan harus benar-benar menyentuh kebutuhan masyarakat, membantu pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan peningkatan kualitas hidup masyarakat sekitar,” tandasnya.
Di hadapan masyarakat dan pihak perusahaan, Lewerissa juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama-sama menjaga stabilitas keamanan dan iklim investasi di Maluku agar tetap aman dan kondusif.
Investasi menurutnya, tidak akan berkembang jika daerah terus dilanda konflik dan ketidakstabilan sosial.
“Kalau kita ingin daerah ini maju, maka kita semua harus menjaga keamanan dan kedamaian. Investor akan datang kalau daerah ini aman. Tapi kalau konflik terus terjadi, maka orang akan takut berinvestasi,” ingatnya.
Lewerissa optimistis proyek hilirisasi fase II PTPN I Regional 8 tersebut akan menjadi tonggak baru kebangkitan ekonomi Maluku, khususnya di Kabupaten Maluku Tengah.
“Kita ingin generasi muda Maluku punya pekerjaan di daerahnya sendiri. Kita ingin masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton di tanah yang kaya ini. Karena itu pembangunan seperti ini harus kita dukung bersama demi masa depan Maluku yang lebih maju dan sejahtera,” tutupnya. (Fth)