Pelabuhan Kapal Laut Kepulauan Manipa Satu Tahun Lebih Tidak Dijamah Kapal Ferry Tanjung Sole Karena Dockhing

Menunggu di Ujung Timur: Sunyi yang Menggantung di Kepulauan Manipa

MANIPA,EKSPRESSIMALUKU, - Angin mulai berubah arah. Di ufuk barat Pulau Manipa, langit perlahan menggelap lebih cepat dari biasanya. Ombak yang dulu bersahabat kini datang dengan suara yang lebih keras seolah memberi tanda bahwa Musim Timur sudah di ambang pintu.

Di sepanjang Pesisir Pantai Pelabuhan Kapal Laut Kepulauan Manipa, beberapa warga duduk diam menatap laut. Tidak ada kapal yang bersandar. Tidak ada suara mesin ferry yang biasa memecah keheningan. Yang tersisa hanyalah harapan yang menggantung dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.

Sudah berbulan-bulan, bahkan setahun lebih, Kapal Ferry Tanjung Sole tidak beroperasi. 

Kapal yang selama ini menjadi salah satu transportasi laut yang menghubungkan kehidupan masyarakat Manipa kini masih dock, tanpa kabar pasti kapan kembali berlayar. 

Tidak ada pengumuman resmi, tidak ada kepastian jadwal. Hanya sunyi dan ketidakpastian.

Bagi warga di pulau ini, laut bukan sekadar bentang alam. Ia adalah jalan utama menuju kehidupan. Dari sanalah bahan pokok datang, pasien dirujuk ke rumah sakit, anak-anak melanjutkan pendidikan, dan hasil laut dijual untuk menyambung hidup.

Kini, jalan itu seperti tertutup.
“Kalau sudah musim timur begini, katong (kami) takut,” ujar Memet seorang warga, dengan nada pelan. “Speedboat bukan solusi. Gelombang besar, nyawa taruhannya.”, bebernya. Sabtu, 11/04/2026

Pilihan memang ada, tapi bukan tanpa risiko. Speedboat yang biasanya menjadi alternatif, tak lagi mampu melawan ganasnya laut saat Musim Timur tiba. Namun tanpa ferry, itulah satu-satunya cara.

Di pasar tradisional, beberapa lapak terlihat lebih sepi dari biasanya. Harga kebutuhan mulai merangkak naik. Pedagang mengeluh barang susah masuk. Nelayan pun tak bisa banyak berharap hasil tangkapan sulit keluar pulau.

"Kehidupan berjalan, tapi terseok."

Yang paling terasa adalah ketidakpastian. Warga tidak hanya menunggu kapal, mereka menunggu kepastian yang tak kunjung datang.

Di tengah situasi ini, sorotan mengarah pada Pemerintah Kabupaten Seram Bagian Barat (Pemkab SBB) dan Pemerintah Provinsi Maluku (Pemprov). Namun alih-alih memberi jawaban, keduanya justru dinilai terkesan diam. Tidak ada langkah nyata yang terlihat, tidak ada penjelasan terbuka kepada publik. Seolah-olah, apa yang terjadi di Manipa bukan keadaan darurat.

Padahal bagi masyarakat di sini, ini bukan sekadar soal transportasi. Ini soal hidup dan keselamatan. Soal apakah mereka bisa mengakses layanan kesehatan tepat waktu. Soal apakah mereka bisa membeli kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Soal apakah mereka masih dianggap bagian dari pembangunan.

Di ujung dermaga itu, seorang anak kecil berdiri memandang laut. Mungkin ia belum mengerti tentang kebijakan, tentang koordinasi antar pemerintah, atau tentang anggaran. Tapi ia tahu satu hal: kapal itu tidak datang.

Dan ketika malam turun, suara ombak semakin keras, seolah mengingatkan bahwa waktu terus berjalan sementara solusi masih tertahan.

Manipa kembali menunggu.
Menunggu kapal yang tak kunjung tiba. Menunggu pemerintah yang seharusnya hadir, tapi justru terasa jauh di sana.(Memet).

1 Liked this post