-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
HUAMUAL,EKSPRESSIMALUKU,-Pagi itu, Negeri Iha Ulupia seakan bangun lebih awal dari biasanya. Matahari belum tinggi, namun halaman negeri sudah dipenuhi suara langkah, tawa kecil, dan persiapan yang terasa begitu hangat. Para pemuda mengecek kembali tenda dan kursi, para ibu di dapur umum sibuk memastikan bahwa harum masakan negeri akan menjadi sambutan pertama bagi tamu terhormat yang datang dari Morela. Kamis. 11/12/2025
Hari ini bukan sekadar hari biasa. Iha Ulupia bersiap menyelenggarakan persahabatan bola, tetapi sebelum kaki para pemain menyentuh rumput lapangan, ada ritual yang jauh lebih bermakna: ramah tamah. Di Maluku, setiap kedatangan tamu adalah peristiwa penting, sebab ia menghidupkan kembali nilai - nilai yang diwariskan leluhur serta nilai tentang bagaimana manusia menyambut manusia lain sebagai basudara.
Saat Tamu Datang, Negeri Berdenyut Hangat
Menjelang pukul sepuluh, iring-iringan tamu dari Morela tampak memasuki pelataran negeri. Mereka disambut dengan senyum lebar dan uluran tangan para tetua adat, pemuda, serta masyarakat yang sejak pagi sudah menunggu dengan penuh antusias. Ada tepukan pelan di bahu, ada sapaan “selamat datang basudara,” dan ada pancaran kegembiraan di setiap mata.
Di balai pertemuan yang dihias dengan kain-kain adat, Iha Ulupia tampak mempersiapkan ruang yang bukan hanya untuk duduk, tetapi untuk berbagi cerita dan mempertemukan dua negeri dalam suasana kekeluargaan. Bau kopi panas, kue-kue negeri, dan aroma masakan para ibu membuat ruangan itu terasa seperti rumah bagi siapa pun yang masuk.
Di sinilah ramah tamah menemukan maknanya—sebuah ruang di mana tidak ada batas, hanya persaudaraan yang dikuatkan.
Sambutan yang Menghidupkan Semangat Kebersamaan
Dalam sambutan mewakili negeri, seorang tokoh masyarakat berdiri dengan penuh wibawa namun hangat. Suaranya pelan namun jelas, menyentuh seluruh sudut ruangan.
“Hari ini bukan sekadar tentang pertandingan bola, tetapi tentang memperkuat tali persaudaraan yang telah ada jauh sebelum kita dilahirkan. Olahraga hanya menjadi alasan, tetapi kebersamaan adalah tujuan utamanya,” ucapnya.
Kalimat itu disambut tepuk tangan, bukan karena formalitas, tetapi karena orang-orang di ruangan itu merasakannya. Memang, hubungan antar-negeri di Maluku berdiri atas nilai-nilai leluhur, dan setiap pertemuan adalah upaya menjaga warisan itu tetap hidup.
Di Balik Ramah Tamah, Ada Cerita yang Tak Terucap
Ramah tamah bukan hanya acara resmi. Ia adalah kesempatan untuk saling mengenal tanpa formalitas. Para ibu saling bertukar cerita tentang anak, para pria berbincang tentang laut dan musim, sementara para pemuda mulai bercanda tentang permainan yang sebentar lagi digelar.
Ada momen ketika seorang anak kecil dari Iha Ulupia menarik tangan ibunya dan berbisik, “Mama, tamang-tamang dari Morela seng beda deng katong.” Ibunya tersenyum dan menjawab lembut, “Karena memang dong basudara.”
Dialog itu sederhana, tetapi menggambarkan bahwa nilai kebersamaan bukan hanya wacana, tetapi telah hidup dalam keseharian masyarakat.
Pemuda sebagai Penggerak Energi Baru
Di tengah suasana hangat itu, Kepala Pemuda Negeri Iha Ulupia menyampaikan pandangan yang menegaskan peran generasi muda.
“Persaudaraan ini harus tetap ada meski waktu terus berjalan. Kami, pemuda, memikul tanggung jawab untuk menjaga dan meneruskan hubungan baik ini. Persahabatan bola hari ini menjadi bukti bahwa kebersamaan selalu lebih besar dari sekadar pertandingan.”
Nada suaranya penuh keyakinan, mencerminkan tekad pemuda untuk menjaga hubungan kedua negeri tetap kokoh, tidak hanya hari ini tetapi untuk masa depan.
Ketika Hidangan Menjadi Bahasa Persaudaraan
Tak ada yang lebih menggambarkan keramahan Maluku selain hidangan yang disiapkan tangan-tangan ikhlas para ibu. Lauk ikan bakar, colo-colo segar, sagu kenyal, hingga kue-kue tradisional tersaji penuh di meja panjang.
Tamu dari Morela menikmati hidangan sambil bercerita tentang perjalanan mereka. Ada tawa yang meledak, ada senyum yang terus mengembang, dan ada rasa yang tidak bisa disembunyikan: rasa diterima.
Di meja makan itu, cerita antara kedua negeri kembali dirajut. Di situ juga kebersamaan menjadi begitu nyata.
Menjelang Pertandingan, Semangat Itu Tak Pernah Surut
Ketika waktu menunjukkan bahwa pertandingan persahabatan akan segera dimulai, suasana ramah tamah perlahan berpindah ke lapangan. Namun energia hangat yang tercipta di balai pertemuan tidak hilang begitu saja—ia ikut terbawa, menyelimuti lapangan dengan suasana persaudaraan yang menggugah.
Para pemain dari kedua negeri saling memberi salam, tertawa bersama, bahkan saling menggoda sebelum kickoff dimulai. Semua ini menjadi pengingat bahwa pertandingan hari itu bukan ajang membuktikan siapa paling hebat, tetapi momen menunjukkan sportivitas dan rasa hormat sebagai sesama basudara.
Ramah Tamah yang Mengajarkan Makna Sesungguhnya
Ketika pertandingan nanti selesai, ketika sorak sorai mereda dan tamu kembali ke negeri mereka, ada satu hal yang pasti: ramah tamah hari itu akan terus dikenang.
Sebab ramah tamah bukan hanya acara dalam jadwal kegiatan. Ia adalah cerita. Ia adalah kenangan. Ia adalah warisan kekeluargaan yang hidup dalam setiap senyum, setiap sambutan, dan setiap jabat tangan.
Dan bagi Iha Ulupia serta Morela, hari itu menjadi bukti bahwa bola memang bisa dimainkan siapa saja, tetapi persaudaraan hanya bisa diciptakan oleh hati yang tulus.(Memet).





