Keluarga Besar Pulau Manipa BerAksi di Kota Ambon, Maluku

Mali Ite Jadi Esa: Mengadopsi Kepolisian Menjadi Satu dengan Masyarakat Kepulauan Manipa

AMBON,EKSPRESSIMALUKU, - Dalam penyampaian aspirasinya di Mapolda Maluku yang dilakukan hari ini, Masyarakat Kepulauan Manipa  Kabupaten Seram Bagian Barat telah menjadikan lebih tersosialisasinya Fungsi Kamtibmas di Maluku. 

Di lapangan, pemandangan indah tersaji saat para pengunjuk rasa berbaur secara harmonis dengan aparat kepolisian, baik yang menggunakan seragam dinas maupun aparat berpakaian sipil. Tidak ada sekat ketakutan, yang ada justru sebuah energi kolektif untuk bersama-sama menegakkan keadilan di bumi Seribu Pulau ini.

Penyampaian aksi yang damai ini telah menampakkan kinerja kepolisian yang semakin membumi di negeri raja-raja. Di bawah terik matahari Maluku, Polri tidak lagi memperlihatkan wajah yang kaku, melainkan sosok pelindung ramah yang siap mendengarkan jeritan hati rakyatnya. 

Kehadiran aparat di tengah-tengah massa justru memberikan rasa aman yang ganda, membuktikan bahwa antara polisi dan masyarakat Manipa memiliki frekuensi yang sama dalam memandang supremasi hukum.

Semoga ke depannya pola aksi dan penanganan unjuk rasa di Maluku dapat terus konsisten tertib seperti ini. Kedewasaan massa aksi terlihat jelas sejak titik awal, di mana para peserta dengan tertib berangkat menuju Mapolda Maluku yang dimulai dari bawah Jembatan Merah Putih (JMP). 

Hebatnya, barisan pengunjuk rasa berada dalam saf yang rapi dipagari oleh rangkaian tali plastik, sehingga perjalanan sama sekali tidak mengganggu pengguna jalan lain yang pagi itu sedang beraktivitas padat di urat nadi ibu kota provinsi.

Sesampainya di depan Mapolda Maluku, kendaraan peserta pengunjuk aksi langsung terparkir rapi dan tertib di sekitar depan pintu gerbang. 

Terlihat aparat berbaju dinas dan berbaju sipil dari kejauhan merapat ke arah gerbang dengan raut wajah yang menyejukkan, mengandung arti bak sebuah keluarga yang sedang menerima kedatangan saudara kandungnya dari jauh. Suasana yang biasanya tegang dalam sebuah demonstrasi, seketika mencair oleh tatapan mata yang penuh empati dan rasa saling menghargai.

Saat perwakilan peserta aksi terus menyampaikan orasinya secara bergantian menggunakan pengeras suara, pintu gerbang Mapolda dibuka dengan lebar dan penuh kerelaan. 
Beberapa aparat spontan bersalaman erat, bahkan ada yang saling bercengkrama dan melempar senyum dengan para pemuda aksi. Di titik inilah terjadi pembauran yang hakiki antara peserta aksi dan aparat kepolisian, meruntuhkan stigma bahwa demonstrasi harus selalu berujung pada gesekan fisik dan konflik.

Dalam penyampaian orasi yang menggunakan pengeras suara oleh peserta aksi yang diikuti pekikan yel-yel perjuangan, pihak aparat juga bersikap proaktif menggunakan alat pengeras suara guna menyambut dialog yang simpatik. 

Alih-alih terjadi debat kusir yang tidak berujung, momen tersebut bertransformasi menjadi ruang komunikasi dua arah yang sangat sejuk. Dengan begitu luwes dan humanis, aparat menyampaikan, "Mari kita lanjutkan dialog di dalam ruangan yang lebih nyaman, silahkan ditunjuk perwakilan bapak-bapak sekalian."

Dengan penuh tertib dan kepala dingin, perwakilan peserta aksi menerima tawaran baik dari pihak kepolisian tersebut. Koordinator lapangan segera memberi kesempatan kepada beberapa orang rekan pengunjuk rasa yang ditunjuk untuk masuk melangkah ke ruang meja bundar. Langkah kaki mereka yang masuk ke dalam markas komando dikawal dengan sapaan hormat oleh jajaran aparat Polda, menandai dimulainya babak baru perjuangan hukum yang elegan.

Dalam dialog formal tersebut, terjadilah komunikasi yang sangat sehat dan transparan. Target pemenuhan harapan masyarakat Kepulauan Manipa untuk menindaklanjuti kasus pengeroyokan yang dialami Abdullah Mahu di Air Kuning beberapa hari yang lalu dijawab langsung dengan komitmen penangkapan para pelaku secepatnya. Pertemuan ini menghasilkan titik temu yang seimbang antara ekspektasi keadilan dari keluarga korban dan kualitas pemenuhan tugas pokok fungsi (tupoksi) aparat kepolisian secara presisi.

Pola penyampaian aksi yang cerdas serta penerimaan yang humanis dari Polda Maluku ini patut diapresiasi setinggi-tingginya dan layak menjadi teladan nasional. Tatakrama etika pengunjuk rasa dari masyarakat Manipa membuktikan kematangan kultural mereka, sementara meningkatnya kualitas pelayanan institusi menjadi acuan terbaik bagi jajaran Polres hingga Polsek di bawahnya. Hari ini, Maluku memberi pelajaran berharga kepada bangsa: bahwa ketika hukum ditegakkan dengan hati, maka stabilitas Kamtibmas akan berdiri dengan kokoh.

Oleh: H. M.S. Pelu, M.Pd.
Pemerhati Sosial dan Budaya

1 Liked this post