-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
MASOHI,EKSPRESSIMALUKU,- Durian lokal asal Pulau Seram yang selama ini kerap terbuang saat musim panen, kini mulai memiliki nilai ekonomi tinggi setelah berhasil menembus pasar internasional. Sejak Maret 2026, masyarakat di Pulau Seram tidak lagi hanya bergantung pada pasar lokal dengan harga murah, karena hasil panen mereka telah diekspor ke Malaysia dan China.
Terobosan tersebut dilakukan oleh PT Frizbee Agri Nusantara melalui pembangunan pabrik pengolahan durian di Desa Hatumete, Kecamatan Tehoru, Kabupaten Maluku Tengah.
Perwakilan perusahaan, Andreas Chang, mengatakan langkah itu berawal dari keprihatinannya melihat banyaknya durian di Pulau Seram yang tidak terserap pasar dan akhirnya terbuang sia-sia saat panen raya.
“Saya sudah delapan tahun berkecimpung di usaha durian. Selama ini orang lebih mengenal durian Medan, padahal di Pulau Seram buah durian sangat melimpah namun banyak yang terbuang karena tidak ada penampung,” ujar Andreas kepada wartawan di Masohi, Sabtu, 16/05/2026.
Ia menjelaskan, informasi tersebut diperoleh dari rekannya bernama Joni, seorang tokoh yang dikenal aktif membantu membuka akses listrik dan air bersih di sejumlah wilayah pelosok Seram. Dari situlah muncul gagasan membangun fasilitas pengolahan durian di Negeri Hatumete.
Menurut Andreas, pembangunan pabrik dilakukan setelah pihaknya berkomunikasi dengan pemerintah negeri setempat. Pabrik mulai dibangun pada Februari 2026 dan berhasil rampung hanya dalam waktu satu bulan sebelum mulai beroperasi membeli durian dari masyarakat.
Berbeda dengan sistem pengepul lokal yang hanya membeli buah kualitas tertentu, perusahaan mereka justru menyerap hampir seluruh hasil panen warga tanpa membedakan ukuran maupun kondisi buah.
“Kami menerima semua durian yang dibawa masyarakat, baik kecil, besar, maupun pecah, selama tidak mentah. Jadi masyarakat tidak perlu khawatir hasil panennya ditolak,” katanya.
Ia menegaskan, kehadiran perusahaan di Hatumete bukan semata-mata untuk kepentingan bisnis, tetapi juga bertujuan membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal.
Selama musim panen Maret hingga April 2026, perusahaan disebut telah mengirim dua kontainer durian olahan untuk memenuhi permintaan pasar di China dan Malaysia.
Namun karena keterbatasan infrastruktur transportasi di Maluku, produk olahan dari Hatumete terlebih dahulu dikirim ke Medan untuk menjalani proses quality control dan pengemasan sesuai standar ekspor.
Andreas menambahkan, pihaknya juga mulai melatih masyarakat setempat agar ke depan seluruh proses produksi hingga pengemasan dapat dilakukan langsung di Pulau Seram.
Selain memberikan dampak ekonomi, keberadaan pabrik juga dinilai membawa manfaat lingkungan. Limbah kulit durian dari hasil produksi dimanfaatkan warga sebagai bahan bakar alternatif pengganti kayu.
Terkait legalitas usaha, Andreas memastikan seluruh dokumen operasional perusahaan di Maluku Tengah telah lengkap dan resmi sebagai cabang dari perusahaan induk yang berpusat di Medan.
Melalui investasi tersebut, durian Pulau Seram diharapkan tidak lagi menjadi komoditas yang terbuang saat panen melimpah, tetapi mampu berkembang menjadi produk unggulan Maluku yang bersaing di pasar global sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat setempat. (**)