Kondisi Siswa SD Kristen Mornaten Menjalani Ujian Tanpa Makan Bergizi Gratis (MBG)

“Beta Lapar, Bu Guru…” Saat MBG Mogok Total, Siswa SD Kristen Mornaten Jalani Ujian dengan Perut Kosong

TANIWEL,EKSPRESSIMALUKU, - Suasana ruang kelas SD Kristen Mornaten pagi itu seharusnya penuh keseriusan. Hari ujian sekolah sedang berlangsung. 

Lembar soal terbuka di atas meja, dan siswa-siswa berusaha menjawab setiap pertanyaan dengan kemampuan terbaik mereka.

Namun, tidak semua berjalan seperti yang diharapkan.

Di sudut kelas, seorang siswa terlihat menunduk lama. Bukan karena sulitnya soal, tetapi karena kondisi yang lebih mendasar.

“Beta lapar, Bu Guru…” ucapnya pelan.

Sejak program Makan Bergizi Gratis (MBG) dilaporkan mogok total pada November 2025, kondisi siswa di sekolah tersebut perlahan berubah. 

Dampaknya kini terasa semakin nyata bahkan di momen penting seperti ujian sekolah.

Beberapa siswa mengikuti ujian dengan perut kosong. Ada yang hanya minum air sebelum berangkat, ada pula yang datang tanpa bekal sama sekali. 

Konsentrasi mereka pun terganggu saat berhadapan dengan soal-soal ujian.
Padahal, ujian membutuhkan fokus dan energi yang cukup.

Kepala Sekolah Kristen Mornaten,Mornateng. Ny Matha Fupilu, S,Pd, saat ditemui di ruang kerjanya, Pada Rabu, 06/05/2026, mengungkapkan keprihatinan mendalam terhadap kondisi tersebut.

“Ini sangat mempengaruhi. Anak-anak sedang ujian, tapi tidak semua dalam kondisi siap, terutama dari sisi fisik,” ujarnya.

Menurutnya, saat program MBG masih berjalan, siswa tidak hanya terbantu dari sisi gizi, tetapi juga lebih siap secara mental dalam mengikuti kegiatan belajar, termasuk ujian.

Kini, situasinya berbeda.
Di dalam kelas, beberapa siswa terlihat berusaha keras tetap fokus. Guru-guru pun hanya bisa memantau sambil memberi semangat, meski menyadari tidak semua anak berada dalam kondisi ideal.

Tak hanya berdampak pada konsentrasi, terhentinya program MBG juga mulai mempengaruhi kehadiran siswa. Ada yang memilih tidak datang ke sekolah, bahkan di masa ujian.

“Semangat belajar mereka menurun. Kehadiran juga mulai berkurang,” tambah kepala sekolah.

Bagi siswa-siswa ini, ujian bukan hanya soal menjawab pertanyaan di kertas, tetapi juga tentang melawan rasa lapar yang mengganggu.

Di tengah keterbatasan, mereka tetap berusaha.
Namun satu hal menjadi jelas—tanpa dukungan yang memadai, perjuangan mereka menjadi jauh lebih berat.

Harapan kini tertuju pada pemerintah dan pihak terkait untuk segera mengambil langkah nyata. Menghidupkan kembali program MBG bukan sekadar soal makanan, tetapi tentang memastikan anak-anak bisa belajar dan meraih masa depan mereka dengan layak.

Di ruang ujian itu, di antara lembar soal dan pensil yang bergerak pelan, terselip sebuah kenyataan yang sulit diabaikan,
belajar dalam kondisi lapar bukanlah hal yang seharusnya dialami oleh anak-anak.(Memet).

1 Liked this post