-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
LEIHITUBARAT,EKSPRESSIMALUKU,- Tradisi membangunkan warga untuk sahur merupakan salah satu kebiasaan tahunan yang selalu dilakukan masyarakat di Maluku setiap bulan Ramadan. Kegiatan ini tidak hanya menjadi cara untuk mengingatkan warga agar tidak melewatkan santap sahur, tetapi juga menjadi bagian dari budaya kebersamaan yang telah lama hidup di tengah masyarakat.
Meski tidak ada catatan resmi mengenai sejak kapan tradisi membangunkan sahur dilakukan di Maluku, kebiasaan ini telah berlangsung turun-temurun dan menjadi rutinitas setiap datangnya bulan suci Ramadan. Selain membantu warga bersiap menyantap sahur, aktivitas tersebut juga dianggap sebagai amalan yang bernilai pahala.
Beragam cara dilakukan masyarakat untuk membangunkan sahur. Ada yang menggunakan alat musik sederhana hingga pengeras suara. Namun di Negeri Larike, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, tradisi ini memiliki keunikan tersendiri.
Sejak era 90an, pemuda di Negeri Larike membangunkan sahur tanpa menggunakan alat musik seperti yang banyak dilakukan saat ini. Mereka melakukannya secara solo maupun berkelompok dengan melantunkan syair atau pantun sahur sambil berkeliling kampung atau berpindah dari lorong ke lorong. Lantunan tersebut bahkan sering dibawakan secara berbalas kelompok dan telah diwariskan secara turun-temurun.
Meski tidak dipungkiri, setiap desa atau negeri di Maluku diketahui memiliki syair sahur dengan lirik dan intonasi yang berbeda-beda. Hal ini menjadikan tradisi membangunkan sahur tidak hanya sekadar rutinitas, tetapi juga bagian dari kekayaan budaya lokal.
Seiring perkembangan zaman, cara membangunkan sahur dengan lantunan syair mulai berkurang. Banyak kelompok pemuda kini lebih memilih menggunakan alat musik modern karena dianggap lebih meriah dan menghibur warga.
Namun seperti bernostalgia, salah satu syair sahur khas Larike yang berbunyi “makan kurma mana bijinya” kini kembali menggema dan viral di media sosial. Syair tersebut ternyata telah dibawakan oleh remaja dan pemuda di Negeri Larike sejak era 1990-an.
Salah satu pemuda Larike, Liken, kepada Ekspressimaluku, Sabtu, 07/03/2026, mengaku bangga karena syair sahur tersebut kembali diangkat dan dikenal luas oleh masyarakat.
Menurutnya, kemunculan kembali syair sahur itu menjadi pengingat bahwa lantunan syair tradisional masih memiliki ruang tersendiri di hati masyarakat, khususnya para pegiat musik Islami di Maluku saat melantunkan lagu-lagu sahur pada bulan Ramadan.
Ia juga menyampaikan terima kasih kepada para warganet yang turut membagikan dan menghidupkan kembali syair-syair sahur legendaris dari Negeri Larike hingga dikenal luas di jagat maya.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami. Syair yang dulu sering dilantunkan pemuda kampung kini kembali dikenal banyak orang,” ujarnya.
Liken berharap lantunan syair atau pantun sahur tetap dilestarikan oleh generasi muda. Selain sarat pesan moral dan nilai religius, tradisi tersebut juga menjadi bagian dari warisan budaya yang tidak boleh hilang ditelan zaman.
Berikut sejumlah syair sahur legendaris dari Negeri Larike yang dahulu sering dilantunkan pemuda saat membangunkan warga:
(M-06)
