Ilustrasi

Pemprov Maluku Integrasikan Pendidikan Toleransi dalam Kurikulum, Bangun Generasi Damai Sejak Dini

AMBON,EKSPRESSIMALUKU,- Pemerintah Provinsi Maluku resmi mengintegrasikan pendidikan toleransi dan nilai-nilai perdamaian ke dalam kurikulum sekolah sebagai langkah strategis membentuk karakter peserta didik yang inklusif dan menghargai keberagaman sejak usia dini.

Kebijakan tersebut diumumkan pada 11 Februari dan menjadi bagian dari upaya memperkuat fondasi sosial di tengah masyarakat Maluku yang majemuk.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku, Sarlota Singerin, menjelaskan bahwa program ini lahir dari kolaborasi berbagai pihak bersama Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Maluku.

“Kami mengapresiasi inisiatif berbagai elemen yang bersama-sama membangun semangat toleransi dalam dunia pendidikan,” ujar Sarlota di Ambon, Rabu.

Ia mengakui bahwa implementasi pendidikan toleransi saat ini masih difokuskan pada sekolah-sekolah berbasis komunitas seagama, seperti sekolah Muslim di bawah Yayasan Sombar dan sekolah Kristen di bawah Yayasan Sitanala. Namun, menurutnya, pembentukan karakter damai tetap menjadi prioritas utama.

Program pendidikan toleransi tersebut disisipkan dalam kurikulum melalui skema pendidikan damai yang terus dikembangkan. Dalam praktiknya, para siswa mendapatkan penguatan dari guru agama masing-masing untuk memahami serta menghargai perbedaan, meskipun berada dalam lingkungan sekolah homogen secara agama.

Tak hanya itu, Disdikbud Maluku juga menggandeng Gereja Protestan Maluku (GPM) dalam pengembangan sekolah damai di SD Negeri 1 dan SD Negeri 2 Hunuth, Kota Ambon. Peresmian sekolah damai tersebut dilakukan langsung oleh Kementerian Agama.

Sarlota menjelaskan, pihaknya melakukan pemantauan berkala terhadap siswa yang mengikuti program tersebut. Hasil evaluasi menunjukkan adanya perubahan perilaku positif, termasuk kemampuan anak-anak memahami dan menerima teman sebaya yang memiliki latar belakang berbeda.

Salah satu inovasi yang diterapkan adalah pembiasaan literasi keagamaan setiap pagi sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai, yakni program Membaca Tuntas Al Quran bagi siswa Muslim dan Membaca Tuntas Al Kitab bagi siswa Kristen atau Meta.

Menurutnya, ruang pendidikan tidak boleh hanya membangun pemahaman keyakinan pribadi tanpa membuka ruang pembauran dan pemahaman terhadap keberagaman.

Program ini juga dikaitkan dengan semangat Asta Cita yang menekankan pentingnya moderasi beragama yang inklusif dan harmonis. Melalui inisiatif Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB) yang digagas Institut Leimena, Pemprov Maluku berharap nilai perdamaian tidak sekadar menjadi konsep, melainkan tertanam kuat dalam karakter generasi muda.

“Perdamaian itu indah, dan harus mulai ditanamkan sejak dini,” pungkasnya. (**)