-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
JAKARTA,EKSPRESSIMALUKU,- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN mencatatkan pertumbuhan kredit dua digit sepanjang 2025, ditopang dukungan likuiditas dari pemerintah melalui penempatan Saldo Anggaran Lebih (SAL) senilai Rp25 triliun. Tambahan likuiditas tersebut membuat kondisi pasar keuangan semakin longgar, khususnya pada kuartal IV 2025.
Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu, mengatakan dana SAL berperan signifikan dalam menurunkan biaya dana atau cost of fund perbankan, sekaligus mendorong penyaluran kredit perseroan.
“Pemerintah masih memberikan bantuan likuiditas berupa SAL di BTN sebesar Rp25 triliun. Ini membuat likuiditas di kuartal IV lebih longgar dan menekan cost of fund bank-bank BUMN,” ujar Nixon dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin, 26/01/2026.
Nixon menegaskan, dana SAL yang ditempatkan pemerintah tidak mengendap, melainkan langsung disalurkan ke sektor riil melalui pembiayaan, terutama Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan pembiayaan perumahan.
“Begitu ada dana SAL, itu langsung jadi kredit. Di BTN, dana SAL benar-benar terserap oleh konsumen melalui KPR,” jelasnya.
Berkat dukungan likuiditas tersebut, BTN mencatat pertumbuhan kredit hampir 12 persen pada akhir 2025. Total aset perseroan juga tumbuh dua digit sebesar 12,7 persen secara tahunan.
Tak hanya itu, kinerja penghimpunan dana BTN juga menunjukkan tren positif. Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 16 persen, sementara pendapatan berbasis komisi atau fee based income meningkat sekitar 14 persen.
Nixon menyebut capaian ini mencerminkan fungsi intermediasi BTN yang berjalan seimbang.
Seiring membaiknya intermediasi, profitabilitas BTN ikut menguat. Laba bersih perseroan tumbuh 16,8 persen, bahkan mendekati 18 persen di akhir tahun, dengan total pendapatan meningkat 18 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Menurut Nixon, tahun 2024 menjadi fase terakhir tekanan laba akibat penurunan kualitas kredit hasil restrukturisasi pandemi Covid-19. Memasuki 2025, kondisi keuangan BTN kembali normal dan pertumbuhan laba kembali mencatatkan dua digit.
BTN juga mencatat perbaikan sejumlah rasio keuangan utama. Return on equity (ROE) mencapai 12 persen, net interest margin (NIM) berada di atas 4 persen, serta rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) menurun menjadi 3,08 persen. Rasio biaya terhadap pendapatan (cost to income ratio) turut membaik ke level 47 persen.
Dari sisi permodalan, penguatan capital adequacy ratio (CAR) turut ditopang penerbitan additional tier 1 capital yang dibeli oleh Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara.
Sebelumnya, Kementerian Keuangan menempatkan dana pemerintah di perbankan umum hingga Rp276 triliun, termasuk tambahan Rp76 triliun per November 2025.
Penempatan dana ini dilakukan dengan tingkat bunga lebih rendah dari biaya dana perbankan, sehingga membantu menekan cost of fund dan mendorong penyaluran kredit ke sektor produktif. (**)


