-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
MASOHI,EKSPRESSIMALUKU,- Kelurahan Lesane, yang kini menjadi salah satu wilayah penting di Kecamatan Kota Masohi, Kabupaten Maluku Tengah, memiliki perjalanan sejarah panjang yang sarat nilai perjuangan, kebersamaan, dan pembangunan berbasis gotong royong.
Cikal bakal Kelurahan Lesane bermula pada tahun 1962, ketika para Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) Kabupaten Maluku Tengah pada masa pemerintahan Bupati Oemar Kasturian menggagas pembangunan permukiman baru sebagai bagian dari pengembangan Kota Masohi.
Gagasan tersebut mendapat dukungan luas dari berbagai pihak. Pada Maret 1962, atas prakarsa Departemen Sosial Kabupaten Maluku Tengah yang saat itu dipimpin Mustafa Ishak, dibentuk sebuah mini organisasi bernama Lembaga Sosial Kota.
Lembaga ini melibatkan tokoh-tokoh masyarakat lintas daerah, di antaranya almarhum Abdul Latif Muhammad Chatib (Sulawesi Tenggara), almarhum A.R. Daeng Rani (Sulawesi Selatan), K. Waderubun (Maluku Tenggara), serta sejumlah tokoh masyarakat Kota Masohi.
Awal Penetapan Lokasi dan Lahirnya Nama Lesane
Tugas utama Lembaga Sosial Kota adalah mengoordinasikan pemindahan warga Kampung Kodok - kini Kelurahan Ampera - ke lokasi permukiman baru sesuai Master Plan Kota Masohi.
Pada 30 April 1962, bersama jajaran pemerintah daerah dan Departemen Sosial, ditetapkanlah lokasi yang kini dikenal sebagai Kelurahan Lesane.
Momentum bersejarah terjadi pada 20 Desember 1962, bertepatan dengan Hari Sosial. Dalam sebuah upacara sederhana yang dihadiri pejabat sipil, TNI, serta para tuan tanah dari Negeri Amahai, Soahuku, dan Haruru, dilakukan Ayunan Kapak Pertama oleh Ibu Kasturian. Pada kesempatan itu pula diberikan nama LESANE, yang bermakna "Tempat Makan Bersama" sebuah simbol persatuan dan kebersamaan.
Perjuangan Awal Warga dan Perkembangan Permukiman
Sebanyak 21 Kepala Keluarga tercatat sebagai warga awal yang secara swadaya dan gotong royong membuka kawasan yang saat itu masih berupa hutan. Dengan peralatan sederhana, mereka bekerja selama kurang lebih delapan bulan. Dalam prosesnya, empat Kepala Keluarga mengundurkan diri karena alasan kesehatan, sehingga tersisa 17 Kepala Keluarga.
Pada Juli 1963, Bupati Oemar Kasturian melakukan peletakan batu pertama pembangunan permukiman. Hingga Agustus 1963, Kampung Lesane dihuni 17 Kepala Keluarga dengan total 45 jiwa. Mayoritas warga berasal dari Buton-Tomia, Sulawesi Tenggara, melalui program transmigrasi lokal yang kemudian berkembang lewat transmigrasi spontan.
Dinamika Kepemimpinan dan Perubahan Status Pemerintahan
Sejak awal, Kampung Lesane berada di bawah koordinasi Departemen Sosial Kabupaten Maluku Tengah. Almarhum Abdul Latif Muhammad Chatib menjadi tokoh pertama yang dipercaya memimpin, didampingi almarhum La Abdul Pika.
Seiring waktu, kepemimpinan kampung berganti hingga akhirnya, dengan berlakunya Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, status Kampung Lesane meningkat menjadi Desa Lesane, dan pada 14 Februari 1981 resmi ditetapkan sebagai Kelurahan Lesane berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 140-135/5.
Sejumlah tokoh telah memimpin Kelurahan Lesane, hingga kini jabatan Lurah diemban oleh Syahrul Rasyid, S.Sos, sejak 24 Februari 2022.
Perkembangan Wilayah dan Sarana Keagamaan
Dalam perjalanan pemerintahan, Kelurahan Lesane mengalami penataan wilayah, dengan penambahan RT dari 7 menjadi 11 RT pada 1997 dan pembentukan 4 RW pada 1999. Secara administratif, sejak 2002 Lesane resmi berada di bawah Kecamatan Kota Masohi.
Pembangunan sarana keagamaan juga menjadi bagian penting. Pada 24 Agustus 2002, Bupati Abdullah Tuasikal melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Bani Abdullah. Pembangunan Masjid Al-Muhajirin sebagai masjid induk menyusul pada 2003, sementara Masjid Bani Abdullah diresmikan pada 28 April 2012.
Prestasi dan Harapan ke Depan
Kelurahan Lesane mencatatkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara I Lomba Desa dan Kelurahan Tingkat Kabupaten Maluku Tengah pada 2022 dan 2023. Bahkan pada 2022, Lesane berhasil melaju hingga tingkat nasional dan meraih Juara III Regional IV, serta menerima penghargaan dari Kementerian Dalam Negeri RI.
Kini, di usia 63 tahun, Kelurahan Lesane dihuni 3.223 jiwa dengan 853 Kepala Keluarga (data Desember 2025). Dengan potensi sumber daya manusia yang dimiliki, Lesane diharapkan terus tumbuh sebagai kelurahan yang maju, religius, dan berdaya saing.
Dengan mengusung motto “Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung,” seluruh elemen masyarakat diajak untuk terus bersatu, bergandeng tangan, dan menjaga nilai kebersamaan demi kemajuan Kelurahan Lesane dan Kabupaten Maluku Tengah.
Dirgahayu Kelurahan Lesane ke-63. Semoga senantiasa diberkahi rahmat dan keberkahan oleh Tuhan Yang Maha Esa. (*)





