-
Discover
-
Spotlight
- Explore People
Ekpresi Maluku 2026
MANIPA,EKSPRESSIMALUKU,- Akhir pekan di Pulau Manipa berjalan pelan. Tidak ada hiruk pikuk kota, yang ada hanya bunyi dayung perahu, desir angin laut, dan suara orang-orang tua yang saling menyapa dengan bahasa mereka sendiri, yakni Bahasa Manipa.
Bahasa tua itu masih bertahan, meski tak lagi seramai dulu.
Di teras rumah yang menghadap laut, para orang tua duduk bercerita. Menggunakan bahasa Manipa yang mengalir ringan namun sarat makna, mengikat ingatan tentang masa kecil, kebun, dan laut yang memberi hidup. Namun suara suara itu hampir tak pernah terdengar dalam percakapan anak - anak saat ini
Anak - anak Manipa hari ini tumbuh dengan bahasa Indonesia. Di sekolah, di tempat tempat pengajian, di layar gawai, bahkan di rumah, bahasa nasional menjadi bahasa utama.
Bahasa Manipa pelan-pelan berpindah tempat dari bahasa sehari-hari menjadi bahasa kenangan.
“Anak-anak sekarang dengar saja, tapi su jarang bahasa,” ujar seorang tetua kampung, matanya menerawang ke laut yang mulai surut.
Perubahan ini tidak datang tiba-tiba. Pendidikan, pergaulan lintas daerah, dan arus informasi membuat bahasa lokal kalah bersaing. Tanpa disadari, Bahasa Manipa kehilangan penuturnya bukan karena ditolak, tetapi karena jarang digunakan.
Padahal, Bahasa Manipa menyimpan nilai hidup orang pulau.
Ada cara menyapa yang sopan, istilah khusus untuk laut dan musim, serta petuah-petuah lama yang tak tertulis di buku. Semua itu hidup dalam bahasa.
Data Kantor Bahasa Provinsi Maluku mencatat, dari 71 bahasa daerah yang terdata di Maluku, sebagian telah punah dan sebagian lainnya terancam. Bahasa Manipa berada di persimpangan itu masih hidup, tetapi rapuh.
Menjaga bahasa ini sejatinya sederhana: memakainya kembali. Menuturkannya kepada anak-anak, menghidupkannya di rumah, kebun, pantai, dan dalam cerita sebelum tidur. Bahasa hanya akan bertahan jika terus dipakai.
Menjelang senja, Pulau Manipa kembali sunyi. Selama kata-kata Manipa masih diucapkan—meski hanya oleh segelintir orang tua—bahasa itu belum sepenuhnya hilang.
Namun waktu terus berjalan. Pertanyaannya tinggal satu: apakah Bahasa Manipa akan tetap menjadi warisan hidup, atau hanya bertahan di ujung ingatan?.. (Memet)





